Ceritaku
dimulai ketika aku berumur 10 tahun. Saat itu kondisi keluargaku sedang kritis,
perusahaan Ayahku bangkrut karena ditipu kliennya, sehingga perusahaan Ayah di
beli oleh seorang pengusaha dari perusahaan lain yang menjadi rival perusahaan
Ayahku. Dan Ayahku pun kehilangan hak penuh atas perusahaannya, sehingga membuat Ayah kehilangan pekerjaannya dan kini ia menjadi
seorang pengangguran yang kerjanya hanya menghabiskan uang saja. Setiap hari
Ayah selalu pulang pagi dengan kondisi badan yang lemas dan sempoyongan dan
dari bau nafasnya tercium bau alcohol. Ya, Ayah sekarang selalu
pergi ke Bar-bar untuk mabuk. Mungkin karena Ia terlalu stres atas apa yang
terjadi di perusahaannya. Ayah yang dulunya sangat ramah dan menyenangkan kini
menjadi sesosok orang yang pemurung dan mudah sekali marah, bahkan tak jarang
ia memukul dan memaki Ibu. Ayah melakukan itu semua tepat di depanku, didepan seorang anak yang baru berusia 10 tahun. Tak heran sekarang aku
sangat membenci ayah.
Tok..tok..tok..Bu....Buka
pintunya Bu..
Terdengar
suara seorang pria di balik pintu. Pasti itu ayah. Sudah hampir 1 bulan Ayah
seperti itu. Ayah tidak mau mencari pekerjaan karena ia masih sangat terpukul
atas apa yang terjadi pada dirinya, dan Ayah juga beranggapan bahwa semua
pengusaha itu jahat dan keji, merebut perusahaan orang lain dengan berbagai
cara dan membuat orang lain menderita seperti dirinya.
Ketika
Ibu membukakan pintu seperti yang sudah lumlah terjadi, Ayah marah-marah.
“Lama
banget sih bukain pintu aja, dasar!!” Ayah membentak sambil membanding pintu.
Ibu pun
hanya terdiam dengan raut muka sedih, etah bagaimana caranya mengubah Ayah
menjadi Ayah yang dulu aku dan Ibu kenal.
Harta
kita semakin hari semakin berkurang karena di pakai mabuk-mabukan oleh Ayah.
Sudah ribuan kali Ibu mencoba berbicara dengan Ayah agar meninggalkan kebiasaan
barunya itu, tapi ribuan kali juga Ayah mengakhiri pembicaraan dengan tamparan
keras dipipi Ibu. Sering Aku melihat pipi Ibu merah bekas tamparan Ayah, tak
jarang juga dipojok bibir Ibu ada luka pukul.
Aku bangga sama Ibu, karena ia begitu sabar dalam menghadapi Ayah,
walaupun Ibu tau bahwa Ia akan mendapatkan perlakuan yang tidak enak, tapi Ibu
selalu mencoba untuk berbicara dengan Ayah.
Sekarang usia ku sudah 15 tahun. Sikap Ayah semakin lama semakin tidak
karuan. Bukannya membaik malah semakin
keras dengan Ibu dan Aku. Hal itu membuat Ibuku sudah tidak bisa menahan
kesabarannya lagi, karena semakin hari Ayah semakin menjadi, setiap hari Dia
selalu pulang pagi, malah kadang Ayah tidak pulang sama sekali. Kebiasaan
mabuk-mabukan dan menghabiskan uang tidak jelas itu membuat Ibu ku memutuskan
untuk berpisah dengan Ayah, dan Aku tidak merasa sedih sama sekali mellihat Ibu
berpisah dengan Ayah karena menurutku itu adalah pilihan yang terbaik, mungkin
kalau aku berada di posisi yang sama seperti Ibu aku pun akan melakukan hal
yang sama.
Akhirnya Ibu berpisah dengan Ayah dan Aku tentu lebih memilih untuk
hidup bersama Ibu, walaupun kita sudah tidak punya apa-apa lagi tapi setidaknya
hidup kita akan lebih baik tanpa ada Ayah. Akhirnya Aku dan Ibu pindah, karena
Ibu hanya mempunyai uang sedikit jadi kita hanya mengontrak sebuah rumah kecil.
Yah tidak apalah kita hidup seperti ini asalkan kita beruda bisa hidup tenang. Karena
Ibu sudah tidak punya uang untuk membiayai sekolah ku, Aku pun terpaksa untuk
berhenti sekolah untuk sementara waktu sampai Ibu memiliki cukup uang untuk
menyekolahkan ku. Dan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari Ibu dan Aku
berjualan roti, Ibu membuat kios kecil di sebelah rumah untuk dijadikan tempat
jualan kami. Tempat itu tadinya adalah sebuah sungai kecil, lalu oleh Ibu
sungai itu di tutup permukaannya oleh papan agar dapat dipergunakan untuk
berjualan roti.
“Laras..bangun sayang, ayo bantuin ibu siapin dagangan”
Seperti biasa, setiap pagi Ibu selalu membangunkan Aku untuk membantu
menyiapkan kios dan roti-roti yang akan di jual. Sewaktu manjaga kios, tak
sedikit Aku lihat anak-anak seusiaku pergi kesekolah. Mereka mengenakan seragam
putih-biru, yaa mungkin jika Aku tetap melanjutkan sekolah Aku pun setiap pagi
akan mengenakan seragam yang sama dengan mereka, tapi sayang ini belum rezeki
ku untuk melanjutkan sekolah. Tapi Aku tidak menyesal dan Aku pun tidak
menyalahkan Ibu atas apa yang terjadi pada ku dan pada kehidupan ku saat ini,
karena Aku tau bahwa yang menyebabkan Aku dan Ibu menjadi seperti ini adalah
seorang lelaki yang dulu Aku sebut Ayah.
Tepat pukul 7 pagi Aku dan Ibu sudah siap di kios kecil kami untuk
menjual roti-roti yang Ibu buat semalaman. Kios kami bisa dibilang cukup ramai,
karena banyak orang-orang yang membeli roti kami untuk di jadikan sebagai
sarapan pagi mereka. Selain roti di kios kami juga menyediakan kopi dan teh,
jadi mereka yang membeli roti kami bisa sekalian ngopi atau ngeteh sebelum
mereka bekerja.
Dari penghasilan kami membuka kios, kami bisa membayar kontrakan kami
dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami, dan sebagian lagi Ibu tabung
barang kali ada pengeluaran yang tidak diduga-duga. Aku merasa senang menjalani kehidupan seperti
ini, yaa walaupun hidup ku bersama Ibu bisa dibilang tidak seenak dulu, tapi
Aku menikmati hidupku yang sekarang. Walaupun dihadapkan dengan berbagai
kekurangan tapi Aku tidak merasa kekurangan sedikitpun. Aku bisa tertawa setiap
hari, Aku bisa melihat raut kesenangan dari wajah Ibu, ekspresi yang sudah lama
tidak Ku lihat sewaktu masih ada Ayah dulu. Aku benar-benar menikmati hidupku
yang sekarang dan Aku belajar bahwa kebahagiaan bisa didapatkan melalui hal-hal
yang sederhana, tidak peduli kamu kaya atau miskin, kamu berseragam atau tidak,
asalkan kamu bisa menerimanya dengan ikhlas maka kebahagiaan akan datang
kepadamu dengan sendirinya. Itu lah yang Aku rasakan sejak hidup bersama Ibu dan
bersama segala kekurangan kita.
Sudah 2 tahun Aku dan Ibu berjualan roti di kios kecil sebelah rumah
kita. Dan Syukur Alhamdulillah kios kami kini sudah lebih besar, kami jug
mempunyai beberapa gerobak roti dan beberapa pegawai, jadi selain berjualan di
kios, ada juga yang menjual roti dengan berkeliling menggunakan gerobak roti
tadi.
Usia ku kini sudah 17 tahun, dan aku mengikuti home schooling. Sulit
dipercaya memang, seorang anak penjual roti bisa bersekolah dengan metode home
schooling. Tapi itulah keajaiban yang Tuhan berikan kepada Aku dan kepada
Ibuku. Kini Ibu tidak perlu repot-repot bangun pagi untuk membuat roti, karena
Ibu sudah mempunyai 4 orang pegawai yang selalu membuat roti setiap hari. Entah
karena roti kami itu enak atau karena roti kami fresh orang-orang disekitar rumah kami bahkan ada yang dari luar
daerah maki sering membeli roti kami setiap harinya. Dulu kios kami hanya buka
dari jam 7 pagi sampai jam 10, atau sehabisnya roti saja. Tapi kini dengan
adanya bantuan tenaga dari para pegawai, kami buka 2 kali sehari, yaitu di pagi
hari dari jam 7 sampai jam 10 lalu di sore harinya dari jam 3 sampai jam 6
sore. Yaa mungkin suatu saat kita bisa buka dimalam hari juga hehehe.
Proses pendidikanku bisa dibilang mujur. Karena yaa Aku ini anak yang
tidak terlalu bodoh, jadi aku bisa mengikuti program akselerasi. Jadi Aku bisa
“lompat” kelas ke perguruan tinggi karena Aku memenuhi beberapa syarat untuk
melakukan itu. Sekarang Aku kuliah di sebuah Universitas Swasta di kota asalku
Jakarta. Aku mengambil jurusan design karena memang Aku itu orangnya suka
melakukan hal-hal yang baru dan dari dulu menjadi seorang designer adalah
impianku. Tapi walaupun Aku sibuk kuliah Aku tidak lupa untuk mengontrol
kelancaran penjualan roti, karena Ibu sudah tua dan mudah sekali lelah makan
Aku lah yang mengurus semua hal yang berkaitan dengan usaha roti. Aku tidak
merasa terbebani dengan tugas ku untuk mengontrol penjualan roti, yaa karena
Aku juga bisa mendapatkan ilmu baru dari itu. Aku tau bagaimana caranya menjadi
seorang wirausaha, dan Aku tau apa-apa saja yang harus dilakukan seorang
wirausaha dalam berbagai keadaan.
Saking sibuknya, Aku tidak memikirkan hal-hal yang dipikirkan oleh
orang-orang seusiaku, khususnya para cewek-cewek, yuup aku tidak memikirkan
untuk menjalin hubungan dengan seorang pria. Padahal kata temen-temenku, ada
beberapa cowok yang naksir kepadaku, tapi Aku tidak memperdulikan hal itu,
disamping Aku ini banyak sekali urusan yang harus dikerjakan, Aku takut para
cowok yang nantinya menjadi pacarku tidak menerima kondisiku yang selalu sibuk,
jadi Aku memutuskan untuk menjomblo dulu sampai tepat waktunya untuk
berpacaran.
Kini usiaku sudah menginjak angka 22 tahun, umur yang memang sudah tidak
lagi dan bukan waktunya untuk main-main. Kios roti Ku sekarang sudah semakin
besar, bahkan kita sudah membuka 3 cabang disekitar Jakarta. Dan Ibu memberikan
nama pada kios roti kami yaitu “Kedai Roti Laras” yaa aku terharu Ibu memakai
namaku untuk dijadikan nama toko rotinya. Kata Ibu itu adalah hadiah buatku
karena Aku sudah lulus kuliah dengan nilai yang sangat memuaskan. Dan bukan
hanya itu yang Ibu berikan kepadaku, Ibu juga mempercayaiku untuk mengurus toko
roti ini sepenuhnya. Aku bangga terhadap Ibu, ibu tidak pernah menyerah dengan
berbagai cobaan yang Ia hadapi, Ibu tidak pernah letih merawatku, padahal Aku
tau ia sangatlah lelah dengan apa yang terjadi dalam kehidupannya, apalagi ia
lalui semuanya itu sendirian. Sekarang giliranku untuk menjaga dan merawat Ibu,
dan Aku berjanji akan menjalankan toko roti yang Ibu bangun dari nol ini dengan
sungguh-sungguh. Aku berjanji akan memberikan kebahagiaan kepada Ibu di masa
tuanya, walaupun kebahagiaan yang Aku beri tidak akan sebanding dengan
kebahagiaan yang telah Ibu berikan kepadaku selama ini.
Aku pikir jalan kehidupanku itu seperti angka 8, kisah hidupku tidak
terputus. Pada saat Aku merasakan hidupku itu sangat sulit namun hal itu
berganti menjadi hal yang lebih baik. Yaa seperti angka delapan yang tak pernah
terputus.
Terimakasih atas semua yang telah
Kau berikan kepada Ku Ibu, Aku tau Kau begitu lelah, namun Kau tidak pernah
memperlihatkan raut wajah lelahmu itu dihadapanku karena Kau takut itu akan
membuatku sedih. Terimakasih Ibu karena engkau telah membuatku tertawa setiap
hari dengan senyummu, walaupun sebenarnya dibalik senyummu itu terdapat sebuah
kesedihan yang teramat sangat dalam. Terimakasih Ibu atas cinta dan kasih
sayang yang Kau berikan kepadaku, perasaanmu terhadapku itu tidak pernah bisa
digantikan oleh apapun. Terimakasih karena engkau telah menjagaku, merawatku
sampai Kaupun lupa untuk merawat dirimu sendiri. Kau yang selalu
memperhatikanku, Kau yang selalu mengutamakan kebahagianku, Kau yang selalu
memenuhi semua kebutuhanku dengan berbagai cara agar Kau bisa membahagiakanku.
Terimakasih atas pengorbananmu selama ini Ibu sehingga Aku bisa menjadi seperti
sekarang ini….

