DELAPAN eps Gadis Penjual Roti

Ceritaku dimulai ketika aku berumur 10 tahun. Saat itu kondisi keluargaku sedang kritis, perusahaan Ayahku bangkrut karena ditipu kliennya, sehingga perusahaan Ayah di beli oleh seorang pengusaha dari perusahaan lain yang menjadi rival perusahaan Ayahku. Dan Ayahku pun kehilangan hak penuh atas perusahaannya, sehingga membuat Ayah kehilangan pekerjaannya dan kini ia menjadi seorang pengangguran yang kerjanya hanya menghabiskan uang saja. Setiap hari Ayah selalu pulang pagi dengan kondisi badan yang lemas dan sempoyongan dan dari bau nafasnya tercium bau alcohol. Ya, Ayah sekarang selalu pergi ke Bar-bar untuk mabuk. Mungkin karena Ia terlalu stres atas apa yang terjadi di perusahaannya. Ayah yang dulunya sangat ramah dan menyenangkan kini menjadi sesosok orang yang pemurung dan mudah sekali marah, bahkan tak jarang ia memukul dan memaki Ibu. Ayah melakukan itu semua tepat di depanku, didepan seorang anak yang baru berusia 10 tahun. Tak heran sekarang aku sangat membenci ayah.

Tok..tok..tok..Bu....Buka pintunya Bu..

Terdengar suara seorang pria di balik pintu. Pasti itu ayah. Sudah hampir 1 bulan Ayah seperti itu. Ayah tidak mau mencari pekerjaan karena ia masih sangat terpukul atas apa yang terjadi pada dirinya, dan Ayah juga beranggapan bahwa semua pengusaha itu jahat dan keji, merebut perusahaan orang lain dengan berbagai cara dan membuat orang lain menderita seperti dirinya.

Ketika Ibu membukakan pintu seperti yang sudah lumlah terjadi, Ayah marah-marah.

“Lama banget sih bukain pintu aja, dasar!!” Ayah membentak sambil membanding pintu.

Ibu pun hanya terdiam dengan raut muka sedih, etah bagaimana caranya mengubah Ayah menjadi Ayah yang dulu aku dan Ibu kenal.

Harta kita semakin hari semakin berkurang karena di pakai mabuk-mabukan oleh Ayah. Sudah ribuan kali Ibu mencoba berbicara dengan Ayah agar meninggalkan kebiasaan barunya itu, tapi ribuan kali juga Ayah mengakhiri pembicaraan dengan tamparan keras dipipi Ibu. Sering Aku melihat pipi Ibu merah bekas tamparan Ayah, tak jarang juga dipojok bibir Ibu ada luka pukul.  Aku bangga sama Ibu, karena ia begitu sabar dalam menghadapi Ayah, walaupun Ibu tau bahwa Ia akan mendapatkan perlakuan yang tidak enak, tapi Ibu selalu mencoba untuk berbicara dengan Ayah.

Sekarang usia ku sudah 15 tahun. Sikap Ayah semakin lama semakin tidak karuan. Bukannya membaik  malah semakin keras dengan Ibu dan Aku. Hal itu membuat Ibuku sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi, karena semakin hari Ayah semakin menjadi, setiap hari Dia selalu pulang pagi, malah kadang Ayah tidak pulang sama sekali. Kebiasaan mabuk-mabukan dan menghabiskan uang tidak jelas itu membuat Ibu ku memutuskan untuk berpisah dengan Ayah, dan Aku tidak merasa sedih sama sekali mellihat Ibu berpisah dengan Ayah karena menurutku itu adalah pilihan yang terbaik, mungkin kalau aku berada di posisi yang sama seperti Ibu aku pun akan melakukan hal yang sama.

Akhirnya Ibu berpisah dengan Ayah dan Aku tentu lebih memilih untuk hidup bersama Ibu, walaupun kita sudah tidak punya apa-apa lagi tapi setidaknya hidup kita akan lebih baik tanpa ada Ayah. Akhirnya Aku dan Ibu pindah, karena Ibu hanya mempunyai uang sedikit jadi kita hanya mengontrak sebuah rumah kecil. Yah tidak apalah kita hidup seperti ini asalkan kita beruda bisa hidup tenang. Karena Ibu sudah tidak punya uang untuk membiayai sekolah ku, Aku pun terpaksa untuk berhenti sekolah untuk sementara waktu sampai Ibu memiliki cukup uang untuk menyekolahkan ku. Dan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari Ibu dan Aku berjualan roti, Ibu membuat kios kecil di sebelah rumah untuk dijadikan tempat jualan kami. Tempat itu tadinya adalah sebuah sungai kecil, lalu oleh Ibu sungai itu di tutup permukaannya oleh papan agar dapat dipergunakan untuk berjualan roti.

“Laras..bangun sayang, ayo bantuin ibu siapin dagangan”

Seperti biasa, setiap pagi Ibu selalu membangunkan Aku untuk membantu menyiapkan kios dan roti-roti yang akan di jual. Sewaktu manjaga kios, tak sedikit Aku lihat anak-anak seusiaku pergi kesekolah. Mereka mengenakan seragam putih-biru, yaa mungkin jika Aku tetap melanjutkan sekolah Aku pun setiap pagi akan mengenakan seragam yang sama dengan mereka, tapi sayang ini belum rezeki ku untuk melanjutkan sekolah. Tapi Aku tidak menyesal dan Aku pun tidak menyalahkan Ibu atas apa yang terjadi pada ku dan pada kehidupan ku saat ini, karena Aku tau bahwa yang menyebabkan Aku dan Ibu menjadi seperti ini adalah seorang lelaki yang dulu Aku sebut Ayah.

Tepat pukul 7 pagi Aku dan Ibu sudah siap di kios kecil kami untuk menjual roti-roti yang Ibu buat semalaman. Kios kami bisa dibilang cukup ramai, karena banyak orang-orang yang membeli roti kami untuk di jadikan sebagai sarapan pagi mereka. Selain roti di kios kami juga menyediakan kopi dan teh, jadi mereka yang membeli roti kami bisa sekalian ngopi atau ngeteh sebelum mereka bekerja.

Dari penghasilan kami membuka kios, kami bisa membayar kontrakan kami dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami, dan sebagian lagi Ibu tabung barang kali ada pengeluaran yang tidak diduga-duga.  Aku merasa senang menjalani kehidupan seperti ini, yaa walaupun hidup ku bersama Ibu bisa dibilang tidak seenak dulu, tapi Aku menikmati hidupku yang sekarang. Walaupun dihadapkan dengan berbagai kekurangan tapi Aku tidak merasa kekurangan sedikitpun. Aku bisa tertawa setiap hari, Aku bisa melihat raut kesenangan dari wajah Ibu, ekspresi yang sudah lama tidak Ku lihat sewaktu masih ada Ayah dulu. Aku benar-benar menikmati hidupku yang sekarang dan Aku belajar bahwa kebahagiaan bisa didapatkan melalui hal-hal yang sederhana, tidak peduli kamu kaya atau miskin, kamu berseragam atau tidak, asalkan kamu bisa menerimanya dengan ikhlas maka kebahagiaan akan datang kepadamu dengan sendirinya. Itu lah yang Aku rasakan sejak hidup bersama Ibu dan bersama segala kekurangan kita.

Sudah 2 tahun Aku dan Ibu berjualan roti di kios kecil sebelah rumah kita. Dan Syukur Alhamdulillah kios kami kini sudah lebih besar, kami jug mempunyai beberapa gerobak roti dan beberapa pegawai, jadi selain berjualan di kios, ada juga yang menjual roti dengan berkeliling menggunakan gerobak roti tadi.

Usia ku kini sudah 17 tahun, dan aku mengikuti home schooling. Sulit dipercaya memang, seorang anak penjual roti bisa bersekolah dengan metode home schooling. Tapi itulah keajaiban yang Tuhan berikan kepada Aku dan kepada Ibuku. Kini Ibu tidak perlu repot-repot bangun pagi untuk membuat roti, karena Ibu sudah mempunyai 4 orang pegawai yang selalu membuat roti setiap hari. Entah karena roti kami itu enak atau karena roti kami fresh orang-orang disekitar rumah kami bahkan ada yang dari luar daerah maki sering membeli roti kami setiap harinya. Dulu kios kami hanya buka dari jam 7 pagi sampai jam 10, atau sehabisnya roti saja. Tapi kini dengan adanya bantuan tenaga dari para pegawai, kami buka 2 kali sehari, yaitu di pagi hari dari jam 7 sampai jam 10 lalu di sore harinya dari jam 3 sampai jam 6 sore. Yaa mungkin suatu saat kita bisa buka dimalam hari juga hehehe.

Proses pendidikanku bisa dibilang mujur. Karena yaa Aku ini anak yang tidak terlalu bodoh, jadi aku bisa mengikuti program akselerasi. Jadi Aku bisa “lompat” kelas ke perguruan tinggi karena Aku memenuhi beberapa syarat untuk melakukan itu. Sekarang Aku kuliah di sebuah Universitas Swasta di kota asalku Jakarta. Aku mengambil jurusan design karena memang Aku itu orangnya suka melakukan hal-hal yang baru dan dari dulu menjadi seorang designer adalah impianku. Tapi walaupun Aku sibuk kuliah Aku tidak lupa untuk mengontrol kelancaran penjualan roti, karena Ibu sudah tua dan mudah sekali lelah makan Aku lah yang mengurus semua hal yang berkaitan dengan usaha roti. Aku tidak merasa terbebani dengan tugas ku untuk mengontrol penjualan roti, yaa karena Aku juga bisa mendapatkan ilmu baru dari itu. Aku tau bagaimana caranya menjadi seorang wirausaha, dan Aku tau apa-apa saja yang harus dilakukan seorang wirausaha dalam berbagai keadaan.

Saking sibuknya, Aku tidak memikirkan hal-hal yang dipikirkan oleh orang-orang seusiaku, khususnya para cewek-cewek, yuup aku tidak memikirkan untuk menjalin hubungan dengan seorang pria. Padahal kata temen-temenku, ada beberapa cowok yang naksir kepadaku, tapi Aku tidak memperdulikan hal itu, disamping Aku ini banyak sekali urusan yang harus dikerjakan, Aku takut para cowok yang nantinya menjadi pacarku tidak menerima kondisiku yang selalu sibuk, jadi Aku memutuskan untuk menjomblo dulu sampai tepat waktunya untuk berpacaran.

Kini usiaku sudah menginjak angka 22 tahun, umur yang memang sudah tidak lagi dan bukan waktunya untuk main-main. Kios roti Ku sekarang sudah semakin besar, bahkan kita sudah membuka 3 cabang disekitar Jakarta. Dan Ibu memberikan nama pada kios roti kami yaitu “Kedai Roti Laras” yaa aku terharu Ibu memakai namaku untuk dijadikan nama toko rotinya. Kata Ibu itu adalah hadiah buatku karena Aku sudah lulus kuliah dengan nilai yang sangat memuaskan. Dan bukan hanya itu yang Ibu berikan kepadaku, Ibu juga mempercayaiku untuk mengurus toko roti ini sepenuhnya. Aku bangga terhadap Ibu, ibu tidak pernah menyerah dengan berbagai cobaan yang Ia hadapi, Ibu tidak pernah letih merawatku, padahal Aku tau ia sangatlah lelah dengan apa yang terjadi dalam kehidupannya, apalagi ia lalui semuanya itu sendirian. Sekarang giliranku untuk menjaga dan merawat Ibu, dan Aku berjanji akan menjalankan toko roti yang Ibu bangun dari nol ini dengan sungguh-sungguh. Aku berjanji akan memberikan kebahagiaan kepada Ibu di masa tuanya, walaupun kebahagiaan yang Aku beri tidak akan sebanding dengan kebahagiaan yang telah Ibu berikan kepadaku selama ini.

Aku pikir jalan kehidupanku itu seperti angka 8, kisah hidupku tidak terputus. Pada saat Aku merasakan hidupku itu sangat sulit namun hal itu berganti menjadi hal yang lebih baik. Yaa seperti angka delapan yang tak pernah terputus.

Terimakasih atas semua yang  telah Kau berikan kepada Ku Ibu, Aku tau Kau begitu lelah, namun Kau tidak pernah memperlihatkan raut wajah lelahmu itu dihadapanku karena Kau takut itu akan membuatku sedih. Terimakasih Ibu karena engkau telah membuatku tertawa setiap hari dengan senyummu, walaupun sebenarnya dibalik senyummu itu terdapat sebuah kesedihan yang teramat sangat dalam. Terimakasih Ibu atas cinta dan kasih sayang yang Kau berikan kepadaku, perasaanmu terhadapku itu tidak pernah bisa digantikan oleh apapun. Terimakasih karena engkau telah menjagaku, merawatku sampai Kaupun lupa untuk merawat dirimu sendiri. Kau yang selalu memperhatikanku, Kau yang selalu mengutamakan kebahagianku, Kau yang selalu memenuhi semua kebutuhanku dengan berbagai cara agar Kau bisa membahagiakanku. Terimakasih atas pengorbananmu selama ini Ibu sehingga Aku bisa menjadi seperti sekarang ini….  

Leave a Reply

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Playlist