Namaku Faraditha, tapi teman-temanku biasa memanggilku Ditha. Aku duduk
di kelas 3 SMA di Semarang. Secara ekonomi aku tidak mengalami kesulitan sama
sekali. Karena Bapakku adalah seorang Direktur di sebuah perusahaan terbesar di
Semarang, sementara Ibu adalah seorang pemilik butik. Yaa aku adalah seorang
anak yang sangat-sangat beruntung, ditambah aku adalah anak tunggal, lengkaplah
sudah kesempurnaanku. Aku pun selalu mendapat perhatian yang sangat besar dari
kedua orang tuaku,walaupun mereka itu kerjaannya segunung tapi mereka tidak
pernah melupakanku satu detikpun. Aku benar-benar beruntung bisa hidup ditengah
keluarga yang amat sangat mencintaiku.
Kehidupanku disekolah juga sangat menyenangkan, aku memiliki banyak
teman, tapi ada 4 orang yang sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri, mereka
adalah Chaca, Kemal, Farah, dan Dito. Mereka berempat merupakan teman pertamaku
pada saat aku masuk ke sekolah ini. Aku juga sering sekali menginap dirumah
mereka, dan orang tua ku pun selalu mengijinkan hal itu, karena mereka sudah
kenal baik dengan Bapak dan ibu ku. Tak jarang mereka berempat juga menginap
dirumahku. Yaa mereka itu sudah seperti keluarga bagi ku dan juga bagi Bapak
dan Ibu ku.
Sekarang aku dan semua siswa kelas tiga sedang deg-degan mau menghadapi
ujian Nasional, dan untuk mempermudah dalam proses belajar, aku meminta ijin
kepada kedua orang tuaku untuk menginap dirumah Farah untuk belajar bersama,
tentunya bukan Cuma aku saja yang menginap dirumah Farah, tetapi Chaca, Kemal,
dan Dito juga ikut menginap. Dan seperti biasa, Bapak dan Ibu mengijinkan aku
untuk menginap dirumah Farah. Yaa memang seperti itulah kebiasaan kami kalau
mendekati masa-masa ujian, apalagi ini Ujian penentuan kita pasti kita bakal
kerja keras untuk belajar dengan sungguh-sungguh.
Dirumah Farah, kita berlima memang benar-benar belajar dengan serius,
kami ini tidak seperti anak-anak yang lain yang kalau sudah kumpul atau
menginao disalah satu rumah temannya kerjaannya hanya ngobrol atau bergosip.
Yaa setidaknya kita itu sudah pandai dalam melihat situasi dan kondisi kita.
Kalau niat awalnya kita menginap adalah untuk belajar yaa maka kita akan
belajar, ada sih waktunya bercanda dan main-main tapi itu hanya kami jadikan
sebagai pelepas penat saja jika sudah mulai capek belajarnya. Inilah kenapa aku
selalu diijinkan menginap dirumah teman-temanku.
Tidak terasa ini sudah hari ke lima kita mengikuti ujian nasional,
artinya hanya tinggal 1 hari lagi ujian nasionl akan berakhir. Aku, Farah,
Chaca, Kemal, Dito, dan semua siswa kelas tiga merasa deg-degan dan takut akan
hasil ujian yang sudah kami lewati. Jangan sampai perjuangan kita selama tiga
tahun ini akan berakhir tragis. Yaa tentunya kita semua sama-sama berdoa agar
tahun ini semua siswa kelas tiga lulus 100%.
Hari terakhir ujian terasa sangat begitu lama, perasaan aku sudah lama
mengerjakan soal tapi entah kenapa soal itu tidak kunjung selesai aku kerjakan.
Aku pikir bukan hanya aku saja yang merasakan hal serupa, ku lihat beberapa
teman ku pun terlihat begitu gelisah. Mungkin rasa ingin cepat selesai begitu
menggebu-gebu dalam diri kita, taoi aku tidak mau berbuat bodoh, aku tidak mau
hanya karena rasa ingin cepat selesai aku asal-asalan dalam mengerjakan soal.
Aku tetap berusaha untuk tenang dan fokus.
Waktu mngerjakan soal hanya tinggal 15 menit lagi, ada beberapa temanku
yang sudah selesai mengerjakan dan sudah mengumpulkannya, aku juga sebenarnya
sudah selesai, tapi aku ingin mengecek kalau-kalau ada soal yang belum aku
kerjakan. Setelah melakukan pengecekan ulang ternyata semua soal ujian telah
aku kerjakan semua, kini aku melangkah keluar meja untuk mengumpulkan ujian
yang telah aku kerjakan selama kurang lebih 2 jam. Dalam setiap langkah aku
berdoa semoga aku, ketiga sahabatku, dan semua siswa kelas tiga dapat lulus
dengan nilai yang terbaik.
Setelah mengumpulkan soal ujian, aku segera membereskan perlengkapan
alat tulis dan segera keluar kelas. Ternyata diluar kelas Chaca, Kemal, dan
Dito sudah menungguku. Degan senyuman khasku, aku menyambut mereka. Tanpa banyak
bicara kita berempat segera menuju kantin untuk menyegarkan otak.
Dikantin kesunyian kami terpecah oleh pertanyaan Kemal.
“Wooy!! Pada bisu nih yaa abis ujian..Gimana pada bisa nggak
ngerjainnya? Tapi menurut aku kalian pasti bisa..hahaha” Ucap Kemal dengan nada
bicara khasnya.
“Yaa kalau ngerjainnya mah bisa Mal, tapi nggak tau tuu bener apa
nggak..hehehe” Jawab Chaca bercanda.
“Aaah tenang, semua ujian yang kita kerjakan dari hari pertama sampai
hari terakhir ini pasti bener semua kok, kita kan sudah belajar dengan serius
masa soal ujian kayak gini saja kita nggak bisa hahahaha” Saut Dito sambil
merangkul Aku dan Kemal.
“Yaa semoga saja apa yang kamu bilang itu benar Dit, dan semoga kita
bisa lulus dengan nilai terbaik se-Semarang yaa hehehe” Jawabku dengan penuh
percaya diri.
“Amiiiiiiin”
Setelah merasa bosan dikantin kami berempat memutuskan untuk pergi
jalan-jalan. Yaa maklumlah selama 2 minggu terakhir ini waktu kita hanya
dihabiskan untuk belajar dan belajar saja, jadi sekaranglah waktu yang tepat
untuk pergi bareng orang-orang yang aku cintai ini.
Akhirnya kita pergi ke sebuah mall yang ada di Semarang. Disana kita
seru-seruan bareng, rasanya sudah lama sekali kita tidak melakukan hal seperti
ini. Dan rasanya itu sangat menyenangkan. Dan aku berharap jika kita sudah
lulus dan sudah kuliah di universitas favorit masing-masing kita masih bisa
kumpul dan bersama seperti ini. Rasanya ini lah yang paling aku rindukan saat
kita sudah lulus nanti.
Tidak terasa hari ini adalah hari pengumuman kelulusan ujian nasional.
Semua siswa kelas tiga pasti merasakan perasaan yang sama. Aku yakin pasti
jantung mereka semua berdetak sangat kencang, sama sepertiku dan tiga kawan
sejatiku. Kami semua disuruh untuk berkumpul dilapangan upacara. Didepan sudah
berdiri kepala sekolah, dan ditangan kepala sekolah ada setumpuk surat. Yaa itu
adalah surat pengumuman kelulusan. Lulus tidaknya kita ada di surat itu. Selama
kepala sekolah berbicara aku tidak mendengarkan apa yang beliau katakan, mata
dan perhatianku hanya terfokus pada tumpukan surat yang berisikan masa depanku
nanti. Dan aku yakin sebagian siswa yang beridiri dilapangan upacara bersikap
seperti itu. Bagaimana tidak, hasil perjuangan kita selama tiga tahun ini
ditentukan oleh isi surat itu.
Lamunanku buyar ketika aku mendengar suara tepuk tangan yang sangat
keras dan banyak. Oh ternyata kepala sekolah sudah selesai berbicara. Kini
giliran para guru yang berkeliling untuk membagikan surat itu. Perasaanku
semakin tidak karuan, aku takut kalau isi suratku tidak sesuai dengan apa yang
aku harapkan. Yang jadi penenangku saat ini adalah kata-kata yang diucapkan
oleh Dito saat kita sedang dikantin waktu itu. Semoga apa yang dikatakan Dito
itu benar, kita semua bakal lulus dengan nilai yang memuaskan.
Tiba-tiba aku merasa ada yang menggengam tanganku, dan ternyata itu
Kemal, dan juga ada Dito dan Chaca yang sadar bahwa aku sangat gugup. Mereka
mencoba menenangkan ku, mereka semua tersenyum dan berkata “tenang kita semua
bakal lulus kok”. Kata-kata itu membuatku sedikit tenang, dan surat pengumuman
kelulusan sudah ada di tanganku dan semua siswa telah menerimanya.
Setelah semua siswa telah menerima surat pengumuman, kepala sekolah
menyuruh kita untuk tidak membuka suratnya. Ternyata beliau bermaksud agar kita
membukanya secara bersamaan. Aku semakin deg-degan, jantungku semakin cepat
berdetak. Dan kepala sekolah memberikan aba-aba untuk membuka surat.
“Satu….Dua…Tigaaaaa!!!!!”
“Sreek..Sreek..Sreek..”
Secara bersamaan kita semua menyobek amplop surat, dan seketika suasana
menjadi hening. Lalu…
“HOREEEEEEEEEEEEEE!!!!!!!!!!!”
Kita semua, siswa kelas tiga serentak berteriak kegirangan melihat isi
surat yang menyatakan bahwa kita semua lulus 100%.
Semua siswa kelas tiga teriak kegirangan, kecuali aku. Aku benar-benar
tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Air mataku menetes dengan sendirinya.
Aku benar-benar senang, dengan kelulusan ini aku telah membuktikan bahwa aku
tidak mengecewakan Ibu dan Bapakku. Apalagi nilaiku itu yang terbaik, yaa
walaupun yang terbaik diantara Dito, Kemal, dan Chaca. Tapi aku benar-benar
senang dengan semua yang aku dapatkan hari ini. Aku tidak sabar ingin
cepat-cepat pulang dan memberitahu kabar super bahagia ini kepada kedua orang
tuaku.
Aku melihat kearah Dito, Kemal, dan Chaca, mereka sedang lompat-lompat
kegirangan. Dan dengan segera aku memeluk ketiga sahabatku itu. Kita berempat
berpelukan sangat erat seakan-akan kita tidak ingin melepaskan pelukan ini. ini
adalah hal terindah yang Tuhan berikan kepada ku, selain aku mempunyai keluarga
yang sangat menyenangkan, yang sangat sayang kepadaku, dan juga dengan hadirnya
aku ditengah-tengah Kemal, Chaca, dan Dito. Orang-orang yang sangat mengerti
aku, mereka adalah orang-orang yang selalu ada untuk ku. Aku dan mereka
berjuang disekolah ini bersama-sama tiga tahun yang lalu, dan kini aku dan
mereka lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Terimakasih Tuhan karena
Engkau telah membawaku di tempat terindah ini. Aku sunguh sangat sangat bahagia
bisa hadir di dunia ini, bisa hadir ditengah orang-orang yang sangat sayang
kepadaku dan akupun sangat menyayangi mereka.

