Kamu Tau? Kamu itu Beruntung

Namaku Dian, aku adalah anak tunggal dari keluarga berada. Ibuku seorang bisnisman dan ayahku seorang pengusaha tekstil. Dari segi ekonomi tentu kehidupanku sangatlah terjamin. Segala yang ku perlukan sudah tersedia di dalam kamarku. Segala yang ku mau dapat segera ku dapat dengan mudahnya. Sekilas hidupku terlihat sangat menyenangkan dan tanpa masalah, aku bisa minta apa yang ku mau, aku bisa pergi kemanapun aku suka. Tapi taukah kamu, ada satu hal yang sangat aku membuatku sedih di dalam hidupku. Aku luput dari rasa kasih sayang dan perhatian dari orang tua ku.
Orang tua ku terlalu sibuk dengan semua urusan mereka. Seluruh waktu mereka, mereka habiskan untuk bekerja dan bertemu dengan klien-klien mereka. Sehingga mereka melupakan anak mereka sendiri, yaitu aku. Aku merasa sangat sedih sekali, orang tua ku tidak pernah melewatkan jadwal pertemuan dengan klien-klien mereka, tapi mereka justru melupakan anak semata wayangnya. Aku mengerti mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhanku, untuk membiayai sekolahku. Tapi aku juga ingin berkumpul bersama mereka, bercanda dengan mereka, merasakan kehangatan dalam sebuah keluarga. Apalagi aku tidak punya adik dan kakak, di rumah, aku hanya tinggal bersama pembantuku. Walaupun orang tuaku pulang, paling juga mereka pulang tengah malam dan pergi lagi saat pagi-pagi buta.
Sekarang aku sudah duduk dikelas 3 SMA di salah satu sekolah favorit di Jakarta. Untungnya, dikelas aku mempunyai 6 teman dekat yang sudah ku anggap sebagai sodara ku sendiri. Di sekolah, aku tidak merasa kesepian karena aku mempunyai mereka yang selalu ada didekatku. Keenam temanku pun tau bagaimana kondisi keluargaku, bagaimana perasaanku kalau aku dirumah, bagaimana rasa tersiksanya aku hidup sendiri di rumah. Itu lah sebabnya mengapa setiap malam minggu atau saat libur sekolah aku meminta teman-temanku untuk menginap dirumahku. Aku merasa sangat senang jika teman-temanku menginap dirumahku, karena aku tidak merasa sendiri dan kesepian lagi, namun bagaimanapun juga aku masih merindukan kehangatan disaat aku, ayah, dan ibuku berkumpul bersama.
Sayangnya masa SMA ku pun akan berakhir. Sekarang aku akan melaksanakan ujian nasional. Lagi-lagi aku tidak merasakan arahan ataupun nasehat-nasehat yang keluar dari mulut ayah dan ibu ku. Paling hanya kata-kata “good luck” yang keluar dari mulut mereka. Disaat teman-temanku bercerita bagaimana cerewetnya orang tua mereka mengingatkan mereka untuk belajar sungguh-sungguh, aku hanya bisa tersenyum dan terdiam. Perlakuan yang menurut mereka menyebalkan dan menjengkelkan, justru merupakan hal yang sangat ingin aku rasakan. Aku hampir lupa kapan terakhir orang tua ku menasehatiku dan  memarahiku. Rasanya aku ingin dimarahi oleh orang tua ku itu.
Belum Selesai..

Leave a Reply

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Playlist